HAKIKAT MANUSIA SISTEM NILAI & PANDANGAN FILSAFAT TENTANG PENDIDIKAN


MAKALAH
HAKIKAT MANUSIA
SISTEM NILAI & PANDANGAN FILSAFAT TENTANG PENDIDIKAN
Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan


DOSEN PEMBIMBING :
Rosnani, M.Pd

COMPILED BY :
KELOMPOK VII:

-        Dewi Susilowati                                 (1888203082)
-        Alfina Damayanti                               (1888203125)



UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2018/2019

KATA PENGANTAR
           

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyusun makalah ini dengan judul Hakikat Manusia, Sistem Nilai dan Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan”. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Makalah ini dibuat agar kita dapat memahami tentang Hakikat Manusia, Sistem Nilai dan Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan, yang semoga dapat berguna bagi para pembaca dan khususnya bagi kami selaku penyusun.

Kami menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini, baik pada teknis penulisan ataupun materi mengingat kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang.

Demikian makalah ini disusun. Akhir kata, kami selaku tim penyusun berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.



Tangerang, 25 Maret  2019


Tim penyusun


DAFTAR ISI


Sampul Muka
Halaman Judul
Kata Pengantar......................................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang................................................................................... 1
1.2    Rumusan Masalah.............................................................................. 2
1.3    Tujuan Pembahasan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 HAKIKAT MANUSIA
...... A. Pengertian Hakikat Manusia......................................................... 3
...... B. Pengertian Unsur – unsur Hakikat Manusia ................................. 3
2.2  SISTEM NILAI
...... A. Pengertian Sistem Nilai................................................................. 4
...... B. Penjelasan Enam Sistem Nilai Kehidupan.................................... 5
2.3 PANDANGAN FILSAFAT TENTANG PENDIDIKAN
...... A. Pengertian Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan..................... 8
BAB III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 10


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG

Pemikiran tentang hakikat manusia, sejak zaman dahulu sampai zamanmodern sekarang ini juga belum berakhir dan tak akan berakhir. Ahli-ahli filsafatmodern dengan tekun berfikir lebih lanjut tentang hakikat manusia mana yangmerupakan eksistensi atau wujud sesungguhnya dari manusia itu. Jadi mereka inimencari inti hakikat manusia yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Dengan demikian aliran ini tidak memandang manusia tidak dari sudut serba zat atau ruh atau dualisme tetapi memandangnya dari segi eksistensi manusia itu sendiri, yaitu dari cara beradanya manusia itu sendiri di dunia.
Kemudian dalam realitas kehidupan sehari-hari kita sering kali diperhadapkan pada situasi-situasi dimana persoalan baik dan buruk menjadi demikian pelik. Realitas hidup yang tak selalu mudah memaksa kita untuk bergulat dengan pilihan-pilihan moral yang tidak dengan serta merta semudah memilah antara hitam dan putih. Kehidupan sekarang semakin kompleks, perubahan yang sangat cepat, persaingan tidak bisa dihindari  pertukaran nilai yang tak bisa dibendung. Kemajuan filsafat, sains, teknologi, telah menghasilkan kebudayan yang semakin maju, proses itu disebut globalisasi kebudayaan. Namun kebudayaan yang semakin maju mengglobal ternyata sangat berdampak terhadap aspek moral dan sistem nilai.
Dan sebagaimana diketahui bahwa manusia  adalah sebagai khalifah allah di bumi, Sebagai khalifah, manusia mendapat kuasa dan wewenang  untuk melaksanakannya, dengan demikian pendidikan merupakan urusan hidup dan kehidupan manusia dan merupakan tanggung jawab manusia itu sendiri.





1.2  RUMUSAN MASALAH
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1.     Apa pengertian hakikat manusia?
2.     Apa pengertian unsur – unsur manusia?
3.     Apa pengertian sistem nilai ?
4.     Apa pengertian sistem pandangan filsafat tentang pendidikan?

1.3  TUJUAN
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini antara lain :
1.     Memahami pengertian hakikat manusia
2.     Memahami pengertian unsur – unsur manusia
3.     Memahami pengertian sistem nilai
4.     Memahami pengertian sistem pandangan filsafat tentang pendidikan





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 HAKIKAT MANUSIA
A. Pengertian Hakikat manusia
Dalam islam berpandangan bahwa hakikat manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh,yang mana keduanya merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung dengan yang lain.Untuk bisa memahami lebih lanjut tentang hakikat manusia dalam perspektif filasafat pendidikan. Hakikat manusia merupakan sosok makhluk sosial yang ditandai dengan keberadaan kontrak sosial di dalamnya. Dimana manusia itu sendiri tidak dapat menjalani kehidupannya secara sendiri-sendiri,sehingga harus saling menghargai antar sesama dan saling menjaga hak-hak satu sama lain (Tafsir : 2010). 
B. Pengertian Unsur – unsur hakikat manusia
Hakikat manusia merupakan makhluk yang memiliki 3 unsur yaitu roh, nafsu dan rasio, dimana  roh merupakan simbol kebaikan, nafsu sebagai simbol keburukan dan penggunaan kedua unsur tersebut kemudian dikontrol dan dikendalikan oleh rasio/akal (plato).   
a.      Roh adalah bagian dari manusia yang tidak memiliki wujud fisik.
Roh menyebar di seluruh badan dan tiada suatu tempat khusus bagi ruh ini dalam jasmani atau jasad, prosesnya seperti kehidupan menyeluruh yang automatis, apabila di masukkan ruh tersebut maka secara keseluruhan akan menjadi hiduplah seluruh badan tersebut tanpa kecuali, begitu juga sebaliknya, apabila ruh tersebut meninggalkan jasmani atau jasad, maka secara automatis pula seluruh jasad atau jasmani tersebut akan mati seketika, beginilah kinerjanya ruh dalam bersatu dengan jasad atau jasmani, tidak ada tempat yang khusus tetapi meliputi secara keseluruhan terkhusus bagi jasmani atau jasad.
Ruh ini di ciptakan seperti layaknya makhluk yang di ciptakan lebih dahulu daripada jasad atau jasmani anak adam.

b.     Nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut. Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya. Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut.

c.      Ratio/ Akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah hhsesuai benar atau salah. Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama. Akal fikiran tidak hanya digunakan untuk sekadar makan, tidur, dan berkembang biak, tetapi akal juga mengajukan beberapa pertanyaan dasar tentang asal usul, alam dan masa yang akan datang. Kemampuan berfikir mengantarkan pada suatu kesadaran tentang betapa tidak kekal dan betapa tidak pastinya kehidupan ini.

2.2 SISTEM NILAI
A. Pengertian Sistem Nilai
Suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan - perbuatan manusia. Prof. Dr. H. Achmad Sanusi sangat memperhatikan  akan kehidupan kompleks, sehingga dengan kebijaksanaan dan keilmuannya beliau memberikan ilmu yang sangat berharga untuk menghadapi kehidupan yang sangat kompleks ini yaitu dengan ENAM SISTEM NILAI KEHIDUPAN yang terdiri dari:
a.      Nilai Teologis
b.     Nilai Logik
c.      Nilai Fisiologi
d.     Nilai Etik
e.      Nilai Estetika
f.      Nilai Teleologi
B. Penjelasan nilai – nilai sistem kehidupan :
a.      Nilai Teologis
Nilai Teologis mempunyai arti Nilai Ketuhanan.
Nilai Teologis sudah ada pada diri kita sebelum fisik kita diciptakan artinya pada waktu di alam ruh Allah berfirman :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al- A’raf : 172).

Dengan demikian nilai teologis adalah fitrah azali yang terdapat pada diri manusia terlepas apakah dia Islam ataupun bukan. Nilai inilah menjadi nilai dasar bagi 5 sistem nilai lainnya.
Jika nilai teologis, membuahkan ketenangan dan ketentraman pada jiwa dan raga pemeluknya, maka melalui kaitan organis antara nilai-nilai pendidikan Islam dengan dampak tersebut, memungkinkan nilai ini untuk dapat meninggalkan jejak yang jelas pada intelektual seorang muslim, sehingga terciptalah jalinan yang kokoh antara kebenaran, hukum, dan pola-pola perilaku yang membina diri seorang Muslim.

b.     Nilai Logik
Nilai Logik berkaitan dengan berpikir, memahami, dan mengingat adalah  pekerjaannya. Pikiran, pemahaman, pengertian, peringatan (ingat)  adalah buahnya. Nilai ini menjadi dasar untuk berbuat, bertindak.

c.      Nilai Fisik/Fisiologi
Nilai fisilologi berarti fisik maksudnya memaksimalkan fungsi fisik dalam menjalani kehidupan ini. Dalam fisik kita sebagai ciptaan Allah disadari atau tidak sangat berguna, namun ternyata kita telah lupa akan fungsinya akibatnya kita tertinggal jauh oleh orang di luar Islam terutama dalam sains dan teknologi, kita hanya bisa mengekor kepada dunia barat.
Alamaududi seorang pembaharu Islam mengeritik kepada umat Islam bahwa umat Islam mundur karena tidak mengoptimalkan potensi dari Allah yaitu As-Sama (pendengaran), Al Basar (penglihatan), dan Fuad (hati). As Sama’ berfungsi berfungsi untuk mendengar ilmu dari orang lain, Basar berfungsi untuk mengembangkan penemuan ilmu pengetahuan dan sama’ untuk memfilter ilmu apabila tidak sesuai dengan  kemanuasaan. Allah berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur (an-nahl:78) .”

d.     Nilai Etik
Nilai etik mempunyai arti hormat, dapat dipercaya, adil semua berkaitan dengan ahlak kita, nilai etik pada saat ini banyak tidak digunakan baik oleh orang yang bodoh ataupun orang yang katanya berpendidikan.
Allah sangat memperhatikan akhlak dengan menyebutnya uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), seperti dalam al-Qur’an:

 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21)

Nabi Muhammad diutus kepada umat di dunia ini untuk menyempurnkan ahlak seperti dalam Hadis Nabi:

“Saya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti (akhlak)”. (Al Hadits)

Semakin majunya ilmu pengetahuan apabila tidak dibarengi dengan nilai etik menjadi musuh manusia banyak korban dari ilmu pengetahuan seperti adanya peperangan, pengembangan ilmu yang tidak memperhatikan lingkungan.

e.      Nilai Estetika
Nilai estetika meliputi keserasian, menarik, manis, keindahan, cinta kasih. Allah menciptakan Alam bukan hanya bermanfaat tetapi ada keserasian serta keindahan, keteraturan. Dalam menjalani hidup kita jangan terlepas dari nilai estetika karena keserasian kita dengan orang lain dan alam sekitar sangat mendukung kita dalam kehidupan seperti kasih sayang di antara kita, keharmonisan. Kasih sayang serta keindahan adalah fitrah manusia yang diberikan oleh Allah
Allah berfirman tentang  kasih sayang :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar-Ruum : 21)


f.      Nilai Teleologi
Nilai teleologi berkaitan dengan manfaat, efektif, efesien  produktif dan akuntabel dalam setiap sisi kehidupan. Islam sangat memperhatikan maslahat dan manfaat dalam syariatnya untuk kepentingan manusia dengan lingkungannya. Banyak larangan dan kewajiban yang memamng hikmanya adalah manfaat bagi kita seperti dalam alqura’an :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar [136] dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. (Al Baqarah : 219)

Dalam hadis nabi bersabda:

“Sebaik-baik kamu adalah orang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. (al- Hadits)

Sebagai sebuah sistem teleologi, dunia menyuguhkan kepada kita suatu tontonan yang agung. Ukuran dan keluasan makrokosmos, rincian yang sulit dari mikrokosmos, serta sifat mekanisme keseimbangan yang sempurna dan tak terbatas kerumitannya, menjadikan kita tercengang dan terpukau. Dan, orang yang baik keimanannya dan (ulul Albab) akan mengucapkan kalimat pengangungan kepada Allah dan menyadari bahwa Allah-lah sang Pencipta dan segala ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia. Dalam hal ini Allah berfirman: “Ulil Albab adalah orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk atau sedang berbaring dan memikirkan tentang penciptaan dan bumi seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, Tidaklah sia-sia Engkau menciptakan semua ini. Mahasuci engkau, peliharalah kami dari siksa api neraka.
Karena dunia sebagai ciptaan dari Yang Maha Kuasa adalah indah dan  benar-benar mulia dikarenakan teleologinya.












2.3 PANDANGAN FILSAFAT TENTANG PENDIDIKAN
A. Pengertian Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan
Suatu proses dimana pikiran, rasio mental manusia untuk memahami, mendalami mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga menghasilkan pengetahuan bagaimana hakikatnya, sejauh yang dapat dicapai manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mengetahui pengetahuan itu.

Beberapa aliran filsafat pendidikan :
a.      Filsafat pendidikan progresivisme yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
b.     Filsafat pendidikan esensialisme  yang didukung oleh idealisme dan realisme.
c.      Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal, menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks.



















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Hakikat manusia merupakan sosok makhluk sosial yang ditandai dengan keberadaan kontrak sosial di dalamnya. Dimana manusia itu sendiri tidak dapat menjalani kehidupannya secara sendiri-sendiri,sehingga harus saling menghargai antar sesama dan saling menjaga hak-hak satu sama lain (Tafsir : 2010). 
Sedangkan sistem nilai adalah suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan - perbuatan manusia.
Dan pandangan filsafat tentang pendidikan adalah suatu proses dimana pikiran, rasio mental manusia untuk memahami, mendalami mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga menghasilkan pengetahuan bagaimana hakikatnya, sejauh yang dapat dicapai manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mengetahui pengetahuan itu. 



















DAFTAR PUSTAKA



Komentar

Postingan Populer